Sejarah Konflik Disintegrasi di Yugoslavia

22:08
Sejarah konflik disintegrasi peperangan di Yugoslavia memiliki berbagai macam faktor dan latar belakang ditinjau dari berbagai pendapat. Selama masa berdirinya negara ini dipenuhi dengan gejolak dan konflik politik setelah meninggalnya Presiden Tito Broz Tito yang juga seorang revolusioner komunis  yang memimpin sejak tahun 1943 hingga kematiannya pada tahun 1980.
Yugoslavia merupakan suatu negara yang pernah berdiri di wilayah Balkan, di sebelah tenggara Eropa, dari tahun 1918 sampai tahun 2003. Dalam perjalanannya, negara ini pernah berbentuk kerajaan dan republik. Negara ini beribukota di Beograd.
Perang Yugoslavia merupakan serangkaian konflik dan kekerasan yang terjadi di Yugoslavia selama tahun 1990-an hingga 2001. Peperangan terjadi karena konflik etnis antar warga Yugoslavia, kebanyakan antara bangsa Serbia melawan Kroasia, Bosnia dan Albania; di Bosnia dan Herzegovina perang terjadi antara Bosnia dan Kroasia, sementara di Makedonia antara bangsa Makedonia dan Albania. Perang ini berakhir dengan kekacauan ekonomi Yugoslavia.
Sering disebut sebagai perang paling mematikan di Eropa setelah terjadinya Perang Dunia, perang ini berciri terjadinya kejahatan perang dan pembersihan etnis besar-besaran. Perang ini adalah perang pertama setelah terjadinya Perang Dunia II yang dianggap sebagai genosidal dan banyak tokoh kunci perang ini yang dituduh melakukan kejahatan perang. International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) didirikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengusut kejahatan perang selama perang ini.
Ketegangan di Yugoslavia meningkat sejak awal tahun 1980-an. Di tengah kesulitan ekonomi, Yugoslavia menghadapi bangkitnya nasionalisme di antara grup etnis. Perang ini terbagi menjadi dua bagian:
1. Perang selama pecahnya Yugoslavia

  1. Perang di Slovenia (1991)
  2. Perang Kemerdekaan Kroasia (1991-1995)
  3. Perang Bosnia (1992-1995)
  4. Kampanye pengeboman NATO di Bosnia dan Herzegovina (1995)
2. Perang di wilayah yang dihuni bangsa Albania:


  1. Perang Kosovo (1998[3]-1999)
  2. Pengeboman NATO atas Yugoslavia (1999)
  3. Konflik Serbia Selatan (2000-2001)
  4. Konflik Makedonia (2001)

Disintegrasi Yugoslavia merupakan proses pecahnya negara federasi Yugoslavia melalui krisis berkepanjangan sejak tahun 1991. Sejarah Yugoslavia dapat ditelusuri sejak abad ke-6, dan bangsa yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Yugoslavia ialah bangsa Carpadus. Bangsa-bangsa yang berturut-turut datang dan menguasai wilayah tertentu di Yugoslavia antara lain bangsa Romawi, Bangsa Perancis, Austro-Hungaria, Turki, Italia, dan Jerman. Di wilayah Yugoslavia pertama-tama terdapat beberapa bangsa kecil yang berdiri sendiri-sendiri sehingga memungkinkan bangsa-bangsa pendatang tersebut menjajah beberapa wilayah dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Perjuangan bangsa Yugoslavia untuk mengusir penjajah dimulai oleh Serbia dan Montenegro yang mendapat pengakuan kemerdekaan sepenuhnya dalam tahun 1878. Dalam perang Balkan tahun 1912, mengadakan persekutuan dengan Bulgaria dan Yunani melawan Turki dan berhasil mengakhiri penjajahan Turki di Yugoslavia. Dalam tahun 1914 situasi politik di Yugoslavia menjadi genting karena pembunuhan putra mahkota Austro-Hungaria, Franz Ferdinand, di Sarajevo oleh seorang pemuda Serbia bernama Gavrilo Princip, anggota Organisasi Pemuda "Bosnia Muda".
Kejadian tersebut memperuncing hubungan Serbia dengan Austro-Hungaria karena Austria menuduh komplotan Serbia sebagai mendalangi pembunuhan itu. Pemerintah Serbia menolak permintaan Austro-Hungaria untuk menyelidiki kasus tersebut. Tindakan Serbia yang melaksanakan mobilisasi umum menyebabkan Austro-Hungaria mengumumkan perang terhadap Serbia dan akibatnya pecahnya Perang Dunia Pertama.

Latar Belakang Konflik Disintegrasi di Yugoslavia

Dimasa kepemimpinan Tito Republik Federasi Sosialis Yugoslavia cukup populer di fora internasional, berkat popularitas kepemimpinan pribadi Tito. Figur Tito sebagai tokoh pemersatu bangsa Yugoslavia memang tepat karena disamping bakat kepemimpinan dan kewibawaannya, sebagai keturunan dari etnis Kroasia Tito menikah dengan warga etnis Serbia. Akan tetapi keadaan kemudian berubah yaitu ketika pada bulan Mei 1980 Tito meninggal dunia tanpa sempat mempersiapkan pengganti yang sekuat dirinya.
Sepeninggal Tito, kehidupan politik dan negara seakan-akan kehilangan arah. Negara yang kemudian dipimpin secara kolektip oleh suatu badan Presidensi berjumlah delapan orang dan partai juga dipimpin Presidium beranggotakan 24 orang, ternyata praktek pengambilan keputusan sering berbenturan satu sama lain, sesuai dengan kepentingan masing-masing dan memperdalam perpecahan. Demikian juga pengaruh pimpinan Federal (partai maupun Negara) menjadi semakin berkurang, dan dilain fihak pengaruh kekuasaan Republik bagian menjadi bertambah kuat.
Perkembangan ini semakin membawa Yugoslavia kearah jurang perpecahan nasional ketika tahun 1991 Slovenia dan Kroasia menarik anggotanya dari badan kolektip tersebut dan kemudian diikuti oleh wakil-wakil dari Republik Makedonia dan Bosnia Herzegovina. Puncak dari memburuknya situasi politik di Yugoslavia ialah ketika pada tanggal 25 Juni 1991 Slovenia dan Kroasia memproklamirkan kemerdekaan dan kedaulatannya secara sefihak yang diikuti dengan pembentukan mata uang sendiri, termasuk pembentukan Angkatan Bersenjata dan penentuan tapal batas wilayah negara sendiri.
Setelah itu Republik Bosnia-Herzegovina pada bulan Maret 1992 mengadakan referendum untuk menentukan sebagai negara merdeka atau tetap dalam Federasi. Referendum yang diboikot oleh etnis Serb di Bosnia Herzegovina (karena etnis Serb di Bosnia Herzegovina tanggal 30 Maret 1992 telah mengadakan referendum sendiri dan memutuskan tetap tinggal di Yugoslavia) tersebut menghasilkan suatu keputusan untuk merdeka. Oleh sebab itu pada tanggal 6 April 1992 kelompok negara-negara ME dan AS kemudian memberikan pengakuan dengan segera kepada Republik Slovenia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina, tanpa menunggu tercapainya stabilitas politik di wilayah-wilayah tersebut.
Dengan adanya pengakuan negara-negara lain kepada kemerdekaan Republik Slovenia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina, maka Republik Serbia dan Republik Montenegro membentuk Federasi Yugoslavia versi baru dengan nama "Republik Federasi Yugoslavia" pada tanggal 27 April 1992 namun tidak mendapat pengakuan internasional sebagaimana republik-republik bagian yang memisahkan diri tersebut. Sedangkan Republik Makedonia yang juga menyatakan kemerdekaannya, namun karena namanya yang ditentang oleh Yunani menghambat pengakuan dari Masyarakat Eropa.
Korban mulai berjatuhan
Proses disintegrasi Yugoslavia, secara riil dimulai dengan aksi proklamasi pemisahan diri secara sepihak Republik Bagian Kroasia dan Republik Slovenia menjadi negara yang berdaulat pada tanggal 15 Juni 1991. Pemisahan diri tersebut sedikitnya didukung oleh negara-negara Masyarakat Eropa, dan pada akhirnya mendapat pengakuan masyarakat internasional padahal pemerintah Yugoslavia berkeras untuk mencegahnya sehingga pecahlah konflik bersenjata yang bermula di Kroasia dan Slovenia.
Konflik yang kemudian terjadi di Bosnia Herzegovina tidak telepas dari proses disintegrasi Yugoslavia. Masyarakat Eropa yang berperan aktif dalam peristiwa pemisahan diri Kroasia dan Slovenia ternyata ikut pula campur tangan di Bosnia Herzegovina melalui Komisi Arbitrasi Masyarakat Eropa yang menyimpulkan bahwa Republik tersebut layak mendapat pengakuan sebagai negara yang berdaulat. Pengakuan internasional terhadap Republik Bosnia Herzegovina yang merupakan "mini" Yugoslavia yang juga berpenduduk multi nasional, multi agama dan komposisi penduduk yang heterogen ini dinilai oleh banyak pihak sebagai terlalu dini, mengingat masih banyaknya masalah-masalah yang belum terselesaikan sehingga timbullah pertikaian antar etnis di antara penduduk Republik Bosnia Herzegovina.
Rumitnya permasalahan yang terjadi di kawasan Yugoslavia khususnya di Bosnia-Herzegovina telah membuat upaya-upaya penyelesaian krisis Bosnia Herzegovina melalui perundingan-perundingan damai yang dilakukan oleh faktor-faktor internasional menjadi sangat sulit. Kegagalan-kegagalan perundingan semakin memperburuk situasi dan semakin mengobarkan pertempuran di antara pihak-pihak yang bertikai yang mengakibatkan timbulnya banyak sekali korban. Guna mencegah berlanjutnya jatuh korban di Bosnia Herzegovina maupun bertambah buruknya situasi di wilayah Yugoslavia maka PBB terpaksa mengirimkan misi damai di wilayah eks Yugoslavia dengan tugas sebagai pasukan pemelihara perdamaian. Namun banyaknya faktor-faktor luar yang memengaruhi serta sikap pihak-pihak yang bertikai yang tidak kompromis dalam mempertahankan kepentingan-kepentingannya tampaknya kehadiran pasukan PBB belum berhasil mengakhiri konflik di wilayah eks Yugoslavia.

Dampak Konflik Yugoslavia

  • Merdekanya 4 negara bagian Yugoslavia, yaitu Slovenia, Kroasia, Macedonia dan Bosnia
  • Terbentuknya International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY) oleh PBB yang berperan besar dalam peradilan tokoh-tokoh yang terlibat yang secara tidak langsung menyebabkan perang Yugoslavia
  • Perdamaian pada tanggal 21 November 1995 yang disepakati oleh 3 negara yaitu Bosnia, Kroasia dan bekas Yugoslavia yang berada di bawah kepemimpinan Serbia
  • Ditandatanganinya perjanjian di Prancis yang berisi bahwa Bosnia menjadi negara tunggal yang terdiri dari Republik Federasi Muslim Kroasia dan Republik Serbia Bosnia. Pasukan militer Serbia harus meninggalkan Sarajevo, yang disepakati menjadi miliki Republik Federasi Muslim Kroasia. Pemerintahan Bosnia yang tersentral dan pemilihan presiden oleh parlemen. Gerakan kebebasan, pengurusan kembalinya pengungsi ke rumah-rumah mereka dan larangan penjahat perang untuk menjabat dalam pemerintahan.
  • Penyelesaian konflik Yugoslavia secara resmi diadakan dengan penandatanganan perdamaian di Prancis yang disaksikan oleh beberapa negara lain pada tanggal 14 Desember 1995
  • Terjadinya pemberontakan kaum Albania di Kosovo, yang akhirnya meluas ke Macedonia
  • Mundurnya Milosevic pada bulan Juni 2001 dan peradilannya yang diserahkan pada pengadilan internasional
  • Bangsa Serbia dan Bangsa Montenegro membuat satu visi untuk bersatu membuat Uni yang lebih besar. Yang akhirnya bernama Uni Negara Serbia dan Montenegro.

Upaya Penyelesaian Konflik di Yugoslavia

Konflik disintegrasi yang berkepanjangan di Yugoslavia sudah banyak memakan korban. Hal inilah yang membuat dunia internasional untuk ambil bagian agar pertikaian segera berakhir. Upaya penyelesaian konflik disintegrasi di Yugoslavia dilakukan oleh banyak negara dengan melakukan perundingan agar tercapai kesepakatan di antara negara bagian untuk berdamai. 
Perundingan penyelesaian konflik di Yugoslavia diselenggarakan di Daytona, Amerika Serikat pada tanggal 1 November 1995. Perundingan tersebut sendiri diawasi oleh NATO, dan diikuti oleh para pihak yang berkonflik. Saat itu, Alisa Izet Begovic hadir sebagai perwakilan dari pihak Bosnia, Serbia diwakili oleh Slobodan Milosevic, dan Franco Tujman hadir sebagai wakil dari pihak Kroasia.
Sebelum perundingan yang dilakukan di Daytona, berbagai usaha telah dilakukan untuk mengakhir konflik yang terjadi sebagai imbas runtuhnya Uni Soviet. Berbagai usaha tersebut adalah:
  1. Diutusnya Yasuki Akasi sebagai negosiator sambil PBB menyeru Serbia untuk menarik pasukannya dari Bosnia. Kejadian ini disusul dengan jatuhnya sanksi kepada Serbia
  2. Dalam pertemuan Negara Kelompok G7 yang berlangsung di Texas, Amerika Serikat, Negara G7 menyerukan agar Serbia menghentikan tindakan biadab yang telah dilakukan kepada Kroasia.
  3. Pengiriman Pasukan NATO ke bekas Negara Yugoslavia untuk melindungi dan menciptakan kedamaian di wilayah Bosnia.
  4. Indonesia juga turut berperan serta dalam Upaya Penyelesaian Konflik di Yugoslavia. Adapun peran Indonesia dalam konflik di Yugoslavia adalah mengirim kontingen Garuda XIV yang tergabung dalam UNPROFOR (United Nation Protection Forces). kontingen Garuda XIV dipimpin oleh Letnan Kolonel Infantri Edi Budianto

Related Posts

Previous
Next Post »

0 comments