Tokoh Pahlawan dan Organisasi Sejarah Pergerakan Nasional

Para tokoh pahlawan dan organisasi sejarah pergerakan nasional Indonesia wajib kita kenang dalam kehidupan berbangsa maupun bernegara. Mereka telah berjuang baik melalui pikiran, tenaga, harta benda, waktu dan segala hal yang dimiliki untuk kepentingan kemerdekaan Indonesia. Sejarah Pergerakan Nasional memiliki pengertian yang khas, yaitu sejarah perjuangan yang dilakukan oleh organisasi secara modern yang bertujuan untuk memperbaiki hajat hidup bangsa Indonesia. Gerakan yang dijalankan oleh para pahlawan pergerakan nasional tidak hanya untuk memperbaiki hajat hidup pada satu sektor saja, namun diberbagai sektor seperti: sosial, ekonomi, politik, keagamaan, budaya, dan lain sebagainya. Istilah nasional merujuk bahwa gerakan ini mempunyai cita-cita nasional yang meliputi seluruh warga Indonesia sebagai bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan. Selain itu, pergerakan nasional juga digunakan untuk menggantikan pergerakan perjuangan bangsa Indonesia sebelumnya yang bersifat kedaerahan. Dengan adanya pergerakan nasional, seluruh elemen bangsa Indonesia bahu membahu mengusir penjajah dari tanah Indonesia.

Tokoh pahlawan pergerakan nasional merupakan para tokoh yang menyadari pentingnya organisasi modern sebagai salah satu usaha untuk mencapai kemerdekaan. Mereka juga sering disebut sebagai tokoh kebangkitan nasional. Kebanyakan tokoh sejarah pergerakan nasional termasuk dalam golongan kaum terpelajar dan priyayi(sebutan untuk kaum bangsawan di masa Belanda). Kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat pribumi merupakan salah satu manfaat dari politik etis. Golongan terpelajar ini adalah orang pertama yang menyadari bahwa penderitaan, kemiskinan, dan kebodohan yang dialamai oleh bangsa Indonesia adalah akibat dari penjajah. Mereka telah menyadari kesalahan bangsa Indonesia dalam melawan Belanda, yaitu:

  1. perjuangan masih bersifat kedaerahan
  2. terlalu terpusat menggantungkan diri pada seorang pemimpin
  3. tidak teorganisir
  4. tujuan perjuangan tidak jelas.
Golongan kaum terpelajar ini kemudian menyimpulkan bahwa salah satu upaya untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia adalah melalui organisasi modern sebagai wadah perjuangan. Faktor yang mempengaruhi pergerakan nasional adalah sebagai berikut:

1) Faktor Intern
  1. Keinginan untuk membebaskan diri dari penjajahan akibat penderitaan yang dialami rakyat
  2. Munculnya golongan terpelajar (elite nasional) akibat pelaksanaan politik etis
  3.  Mengenang kejayaan masa lampau yang gemilang
2) Faktor Ektern
  1. Kemenangan Jepang atas Rusia (1904-1905)
  2. Pengaruh  ucapan Presiden AS. Woodrow Wilson, “Bangsa-bangsa yang  masih terjajah agar menentukan nasibnya sendiri"
  3. Terpengaruh oleh gerakan nasional di negara lain, seperti :
  • Gerakan Kemerdekaan rakyat India yang dipimpin oleh Mahatma Gandhi
  • Gerakan Turki Muda yang dipimpin Musthapa Kemal Pasha (Kemal Ataturk)
  • Gerakan Kemerdekan di Philipina dibawah  pimpinan Yose Rizal
  • Revolusi Cina (1911) yang dipelopori oleh Dr. Sun Yat Sen
Adapun ciri-ciri perjuangan pergerakan nasional adalah sebagai berikut:
  1. Pergerakan bersifat kebangsaan/ nasional
  2. Pergerakan menggunakan sistem organisasi teratur, dan tidak terpusat ada pimpinan
  3. Pergerakan dilakukan oleh pelajar yang berpandangan jauh ke depan
  4. Perjuangan tidak bersifat fisik/ mengangkat senjata, namun berupa gerakan pendiidkan ekonomi dan politik
Salah satu usaha yang terwujud dari pergerakan nasional adalah adanya pers untuk mendukung perjuangan. Pers  dimanfaatan sebagai sarana untuk menyebarluaskan  cita-cita mencapai kemerdekaan Indonesi dan sebagai alat untuk memperkuat cita-cita kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Pada masa pergerakan Nasional pers  terbit dimana-mana dibawah pimpinan para tokoh dan perintis pejuang kemerdekaan 

Lalu siapa saja tokoh pahlawan sejarah pergerakan nasional? Berikut kami sajikan beberapa tokoh pahlawan pergerakan nasional di Indonesia. 
  1. Dr. Wahidin Sudirohusodo ( 1857- 1917)
    Nama kecil beliau adalah Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo. Dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan lulusan sekolah Dokter Jawa dan bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899. Pada tahun 1901 menjadi redaktur majalah Retno Dhoemilah “Ratna yang berkilauan”. Pada tanggal 20 Mei 1908 beliau mendirikan organisasi Budi Utomo di Yogyakarta. Budi Utomo berarti tujuan mulia. Budi Utomo merupakan organisasi pertama yang memiliki struktur dan tujuan terhadap kebangkitan bangsa Indonesia. Untuk itulah hari berdirinya Budi Utomo yaitu tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
  2. Dr. Sutomo
    Beliau merupakan ketua Budi Utomo.
  3. H. Samanhudi
    Beliau merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI). SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh.  Haji Samanhudi dan kawan-kawan ini adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat pada masa itu. 
  4. H. Oemar Said Cokroaminoto
    H. Oemar Said Cokroaminoto namanya sering disingkat H.O.S Cokroaminoto merupakan pendiri organisasi Sarekat Islam (SI) dan salah satu lulusan OSVIA. SI awalanya merupakan organisasi perdagangan muslim yang bernama Sarikat Dagang Islam (SDI). Kemudian berkat dorongan dari Cokroaminto SDI berubah menjadi SI. 
  5. H. Agus Salim
    Beliau menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Setelah lulus, Agus Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
    Agus Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.
  6. Tiga Serangkai: Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi SuryaningratTokoh tiga serangkai merupakan pendiri Indische Partij yang didirikan pada tanggal  25 Desember 1912. Indische Partij beranggotakan orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda dengan orang Indonesia. Indische Partij sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indonesia dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indonesia sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.
Demikianlah tokoh-tokoh pahlawan sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah.

0 Response to "Tokoh Pahlawan dan Organisasi Sejarah Pergerakan Nasional"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel